Kepo.

I’m listening to Kelly Clarkson’s Sober, watching American Idol, and suddenly my mind is getting back to what happened the last few days at the office.

 

Jadi ceritanya ada satu orang di kantor yang *well what can I say* sebegitu inginnya “terlibat” dalam setiap kesempatan – I would say, maka dia berusaha untuk “menggali” segala macam informasi dari setiap lapisan/kelompok masyarakat internal kantor. << Wow, can’t believe that’s in one sentence :p

Sampai disini, rasanya masih wajar ya. Apalagi kantor yang ga terlalu besar, tiap orang masih saling kenal, dan sebenarnya bukan cuma dia saja yang kebiasaannya suka pengen tahu berita. Dalam tahap wajar lah, kalau ada yang lagi ngobrol heboh lalu ada satu yang menyusup, “eh eh ada apa nih? kenapa kenapa?”

 

But, in this one’s case, she know she can’t be like that. She can’t be that kind of cheerful person to go “hey y’all what’s happening? what’s today’s gossip?” so she does differently. This is where the creepy part begins. She calms down and listens. And I know it because her desk is beside mine (which that makes us neighbors) << creepy part 2.0!

Take my experience for example. Beberapa hari yang lalu gw memang sudah mengajukan pengunduran diri ke atasan gw. Waktu itu belum ada yang tahu kecuali teman2 se-tim gw. Gw tidak suka mengumbar2 berita seperti ini, tapi kalo ada yang bertanya duluan, gw sebenarnya sukarela aja memberitahu. Dan kebetulan ada satu cici yang dateng ke gw dan gw tahu dia iseng doank nanya2.

Cici: “kapan nyusul Lan?” << soalnya bulan ini kantor gw banyak yang resign
Gw: “bulan depan cie…”
Cici: “hah, beneran? kemana, situ* juga ?” *situ = kantor tempat teman2 yang sudah duluan resign
Gw: “Bukan lah, Jakarta Selatan.”
Cici: “yaah…tambah banyak lagi deh (yang resign)…”

 

Sampai disini, percakapan berakhir.  Nah kalo sama si cici itu sih, gw udah pasrah, soalnya pasti dia ada cerita lagi ke teman2 se-gengnya, but it doesn’t matter since I myself raised the news.

Yang menakutkan, esok harinya, “tetangga” gw tiba tiba memalingkan matanya ke gw, ada kali 3 detik, lalu bertanya, “kemarin interiew dimana?” << padahal seingat gw, gw tidak menyebut kata kata interview atau wawancara selama beberapa minggu terakhir! Tapi gw jawab juga, “di Jakarta selatan.” Eh, pertanyaan berlanjut lagi dong, “Trus? Udah keterima?” I said, “Iya.”

This is the creepy part AND really makes me angry inside, she asked loudly, “jadi, resign dong?” Holy Lord Jesus. Kalo ngga ingat reputasi diri sendiri, mungkin gw udah slap her cheeky cheek at that very moment. I mean, ga perlu kenceng gitu kali “proklamasi”nya. Clearly, jadi dia sendiri yang memutuskan mengeluarkan kata kata itu, bukan dari mulut gw. Ckckck.

 

Pengalaman kedua:

Ternyata rekan se-tim gw juga berencana cabut. Kebetulan dia baru masa probation, dan berakhir bulan Juni ini. jadi suatu hari (setelah insiden pertama di atas) si rekan datang ke gw, ngobrol, katanya udah bilang ke bos ga mau lanjut lagi. Trus bos bilang, “ya udah kamu segera kasih surat resign ya.” << Sebenarnya gw pengen banget motong percakapan ini karena si tetangga lagi duduk manis disamping. Tapi akhirnya gw ngobrol juga ampe selesai.

Nah, besoknya (she always give 24 hours down-time, how clever) kembali si tetangga tiba tiba bertanya ke gw (dengan memberi jeda 3 detik untuk menatap wajah gw dulu, tentu saja), “Si *rekan tim gw* mo resign juga ya?”

Gw sudah berasa dia pasti akan tanyain hal ini, dan dalam hati gw setengah-mengumpat-setengah-istighfar O’ Holy Lord, again? Lalu, gw ga mau jawab “iya”, pokoknya gw tidak mau membenarkan pertanyaan dari dia karena menurut gw itu sama aja dengan gw menyebarkan gosip juga. Jadi, gw tanya balik,

“Dengar dari mana?”
Dia: “Itu kemarin lu berdua ngobrol…”
Gw: “Owh, ga tahu, mungkin baru wacana doank…” << padahal gw bisa saja langsung mengiyakan, tapi gw tetap tidak mau membuat dia puas & berasa dapat informasi baru sebelum orang lain tahu!

 

Apa yang bisa diambil dari kedua pengalaman ini?

The very fact, she listens! Artinya? DIA NGUPING!!! Isn’t that creepy enough? Ternyata kalau dia diam seperti itu, tapi kupingnya tetap dipasang, jadi dia nggak ketinggalan berita. Pinter, tapi menakutkan. Dan gw sangat tidak suka orang seperti ini. Berpura pura tidak dengar, tapi di kemudian hari banyak tanya seakan tidak mau ketinggalan berita. Siapa yang tahu kalo ternyata dia dapat informasi yang bersifat rahasia, and who would know that she would use that against the person she overhears? Kalo menurut gw, ini rada rada psycho. Makanya gw tidak mau membuat dia puas dengan menceritakan kembali apa yang (seharusnya) hanya menjadi percakapan antara gw dan orang lain, bukan dia (you’re not in, buddy, I’m sorry). Noh, lu cari tahu sendiri sono. Not from me, I’m protecting my friend here. Harusnya kemaren langsung gw sambar aja ya, “oh, jadi lu nguping???” Entah gimana ekspresinya kalo gw gituin. But, sudahlah, dalam hitungan minggu gw akan terhindar dari orang ini koq ;D It’s up to another people not to be her next victims ;p

 

*”kepo” is the word from my friend, at first I didn’t know the meaning, but now I do. ;p*