Should I Believe In Second Chances?

Merenung (setelah lama tidak-).

Lama lama kalo dipikir rutinitas gw ini menyeramkan, think about it. Weekend, stay at my room, thinking, and when I’m tired of it, I sleep. Grrr…. gotta have much more money.

Okay, on to the…

“Second Chances” topic.

  • Ada seorang – katakanlah –  rekan kerja. Penampilannya seperti anak muda (karena memang masih muda), namun selidik punya selidik dia sudah memiliki seorang putri di kota asalnya. Penyebabnya apa lagi kalau bukan the “accident”. They married, but then she left him (don’t exactly know why), she ran away so he can’t find her, and we meet at our office. Tragic, she left her daughter to be carried by her mother (the daughter’s grandmother). In here, she also carried on, had a boyfriend, pretend she was single at first (but then confessed to him), and lived a happy not to mention graceful life. You know lah, kemana mana disupirin, makan dibayarin, sekolah (lagi) dibiayain, rumah tinggal numpang, punya usaha bersama sambil tetap meninggalkan sang putri di kota lain diasuh oleh neneknya yang kadang mau minta tolong ke anaknya sendiri susahnya setengah mati.
  •  Gw pernah dengar cerita, seorang direktur perusahaan besar yang sukses, pegawainya banyak, usahanya dimana mana. Ternyata eh ternyata, sang direktur pernah tersandung kasus korupsi beberapa tahun silam. Menurut cerita tersebut, sang direktur sudah sempat dijatuhi hukuman penjara yang lumayan lah durasinya, cukup buat nanem pohon mangga dari biji ampe beranak – eh, berbuah ;p Tapi sekarang direktur itu bebas melenggang tuh, padahal kalau dihitung dari tahun vonis dan masa hukumannya, seharusnya dia masih ada dibalik jeruji besi ;D
  • Rekan kerja gw yang lain, pernah menjalin percintaan dengan seseorang selama beberapa tahun – cukup lama lah kalau menurut gw. Tapi mungkin karena nasib berkata lain, atau karena takdir memutuskan mereka kayaknya tidak cocok untuk terus bersatu (“Oi, lu berdua kelamaan kaga kawin2 tuh, gw putusin aja ye!” << takdir said ;D ), maka pada suatu waktu keduanya pun putus hubungan. Namun mungkin peruntungan ada di pihak sang rekan kerja, karena hanya dalam hitungan beberapa bulan kemudian, dia kembali dipacari, kali ini oleh orang yang lebih baik, menurut pengamatan gw, karena sekarang sang rekan sudah bermobil, hehehe… Satu sisi diri gw yang egois bilang, kalau dilihat dari segi manapun, terlebih manner, moral & mental, gw ada lebih baik dari si rekan, tapi mungkin dalam hal hubungan pria-wanita dia lebih beruntung. ;D

Melihat pengalaman dan kejadian di sekitar gw, seharusnya gw percaya bahwa kesempatan kedua itu memang ada. Setelah gw pikirkan lagi, dari ketiga cerita di atas, yang menjadi inti adalah satu: materi. Apakah ini berarti gw terlalu berfokus pada second chances yang berupa materi/uang/pacar/hal hal yang kasat mata lainnya?

Jujur gw tidak terlalu percaya dengan kesempatan kedua. Maksudnya begini. Gw tidak percaya kesempatan itu datang begitu saja, gw tidak mau percaya & bergantung pada peruntungan atau hoki hokian. Kesempatan kedua mungkin saja bisa datang kalau kita mengusahakan sesuatu dengan baik dan tepat. Gw lebih senang menerima sesuatu hasil berdasarkan kerja keras, bukan hanya dengan mengharap “ah mungkin kalo gw kerjakan seperti ini, gw bisa dapat hasilnya begini”. Harapan itu ada, tapi gw tidak suka “sekedar berharap”. Dan ketika harapan menjadi kenyataan, orang kadang bilang, “inilah hasil kerja gw”. Belum tentu, karena yang tahu effort-nya hanya dia sendiri, dan sepantasnya tidak semua orang diberikan kesempatan kedua, tapi percaya atau tidak, cemburu atau tidak, mungkin gw hanya harus belajar menerima saja kalau kesempatan kedua (dan ketiga, keempat, dan seterusnya) memang dirasakan oleh sebagian orang.

Apakah second chances pernah terjadi kepada gw?

Saat ini gw cuma bisa mengingat satu hal: gw diterima bekerja di salah satu perusahaan brewery.  Mungkin inilah kesempatan terbesar yang pernah datang ke gw. Di perusahaan gw yang sekarang gw merasa stuck, dan setelah melalui proses rekrutmen yang panjang, gw yakin gw diberikan kesempatan baru, untuk mengembangkan kemampuan gw, dengan tidak meninggalkan skill yang sudah gw dapat dari perusahaan lama. Bagusnya lagi, gw melihat perusahaan baru tersebut butuh orang seperti gw, dimana mungkin dari seratus yang ngelamar, gw yang dipilih. Ini kesempatan gw untuk “mengulang dan memperbaiki” apa yang gw lakukan & tidak/belum lakukan di kantor lama, sekaligus kesempatan untuk berkembang ke arah/level yang lebih baik lagi. Gw bisa belajar business process yang totally new. Gw akan belajar berinteraksi & mengenal orang2 baru. Mengerahkan kemampuan mendengar & mengasah problem-solving skill gw kepada kantor baru, mengabdi.

Gw bangga bahwa gw tidak melihat kesempatan ini sebagai sekedar sarana peningkatan materi/penghasilan doank. Salary? Kurang lebih sama! See, I’m not totally a material girl, aren’t I? ;D Gw cuma bersyukur masih mencicipi apa yang namanya “the real second chance.”

Apakah gw hoki/beruntung? Mungkin, karena gw tahu banyak sekali orang2 di luar sana yang punya kemampuan sama (bahkan lebih) dari gw untuk memenuhi requirements dari kantor baru tersebut, tapi kenyataannya gw yang terpilih.

But still, I don’t believe in second chances, or even luck.😉