I Don’t Like Teachers.

Karena sebagian besar pengalaman bersama guru guru tersebut adalah kurang menyenangkan.

  1. Kelas 2 SD, gw pernah dijewer guru kesenian. Penyebabnya (mungkin) adalah: kebetulan waktu itu gw duduk di baris agak belakang (funny, kelas 2 itu duduknya bisa pindah2) dan hari itu dia belom ‘menghukum’ satu orang pun, jadi gw yang lucu dan manis dan notabene tidak bersalah apa apa ini kena bagian juga. Luckily, tampaknya guru itu tidak bertahan lama di SD gw.
  2. Kelas 4 SD, ada tuh guru IPS yang rada2 hebring, lalu kebiasaannya agak lebay, yakni memukul meja keras2 dengan benda apa saja untuk mendiamkan seisi kelas. Sekali waktu, barang yang dipake adalah penggaris kayu 1 meter milik kelas gw, dan ketika wali kelas gw tahu penggaris itu udah kebelah jadi dua, mood-nya langsung turun drastis. Si guru IPS pun diam2 aja, gak ngomong apalagi minta maaf, probably karna dia juga udah rada malu matahin penggaris orang. Simple mistake but tragic.
  3. Kelas 5 SD, wali kelas gw bilang baca Bobo itu tidak ada gunanya. Dan sebagai ababil saat itu gw langsung instantly tidak suka sama dia, hihihi…she didn’t know that I got so much moooree…information and things from that kids magazine than from her. Certainly she never read one.
  4. Satu lagi guru SD yang malesin banget, dia kalo lagi emosi mukanya jadi merah, cuping hidung melebar dan kelakuannya jadi khilaf, misalnya ngebentak gw “Buruan lakuin ini!” once, in the middle of school Christmas celebration (gini2 gw udah jadi eM-Si dari SD tauk ;p). Jeez.
  5. SMP. Masa paling tidak menyenangkan selama hidup gw. Suatu hari gw rada telat masuk sekolah, udah pada duduk manis di lapangan, apel pagi (belakangan gw takjub koq bisa gw bertahan di tengah2 panggangan sinar matahari kayak gitu). Jadilah gw mengambil jalan agak memutar, maksudnya biar gw duduk rada di barisan belakang, sekaligus supaya tidak terlalu menarik perhatian orang2. Eh, itu ibu langsung ngomel, “Sudah telat, bertingkah lagi” karna dia pikir gw mo langsung kabur ke kelas. Menurut gw sih sangat tidak pantas gumaman kayak gitu keluar dari mulut seorang hajjah, but, well…who knows.
  6. Guru SMP juga. I got wounds on my two knees at her lesson, she didn’t care. I ran so fast so I wouldn’t miss marching band tryout, I sprained my ankle, she didn’t care. I was a lead speaker in a group of three for an English competition, she forgot to mention my name. Sometimes we pass by each other, she pretends she didn’t know me. I wore the wrong shoes, she was the first one who realized it.
  7. One of my English teacher in junior high was a very temperamental one, too. Suatu saat dia sedang tidak punya pulpen dan gw pinjemin salah satu yang terbagus milik gw, beberapa minggu kemudian gw minta balikin biar gw isiin lagi refilnya, dan gw diteriakin, “Ibu tidak pernah pinjam pulpen kamu!!” << really, kalo diterjemahkan ke bahasa tulisan, tanda seru-nya harus dua. Soalnya orangnya apa apa gak cukup nada biasa, harus dengan teriak. Pernah juga dia melempar taplak meja yang sudah ditata se-indah-mungkin oleh orang sekelas. Bener2 tidak tahu terimakasih.
  8. Guru math, sebenernya gw tidak punya problem sama dia. Tapi begitu adik gw masuk ke SMP yang sama, dan dia cerita bahwa guru itu telalu banyak bertanya tentang keluarga gw, gw langsung ilfil. Bukan urusan lu, pak.
  9. SMA? I don’t like most of them, period.

 

Mungkin karena pengalaman2 ini maka gw sampai sekarang berpikir tidak ada guru (or dosen) yang bener2 baik, real pure educator. Kebanyakan dari mereka masih pakai ego. Kaku, siswa mesti ngikutin 100% lah, guru 100% benar lah, menghukum semena mena, masih mikir keuntungan buat diri sendiri. Makanya banyak pengajar yang jualan rangkuman. Ha-ha. Emang kenapa? Ya ga boleh. Ilmu itu gratis. Lagian gw udah bayar uang sekolah, uang buku, kenapa harus bayar “sumber tidak resmi” seperti itu lagi. Illegal!
Pahlawan tanpa tanda jasa? Belum tentu. Did I learn anything from them? Not at all.

 

 

TSS.