Uncategorized

GO-MART

Gw ngga pernah puas pakai layanan Go-Mart. Kesan yang didapat selama gw mencoba menggunakan Go-Mart adalah, driver tidak di-training dengan benar. Jadi satu kali gw mendapatkan kesan driver membelanjakan order gw seadanya saja, ngga benar benar persis dengan apa yang gw order. Barangnya beda dikit, tapi gw ngga ditanyain dulu, barangnya beda nih, mau ganti atau ngga jadi. Ngga ada. Sok diterusin aja gitu belanjanya.

Nah sekarang dapat pengalaman lagi yang agak absurd. Jadi gw order sembako lewat Go-Mart. Pertama dapat driver, langsung di-cancel oleh dia. Yah maklumlah, mungkin ga punya duit sebanyak itu karena gw ordernya lumayan, hampir 500 ribu. Terus dapat driver lagi. Drivernya udah sampai teleponan sama gw, “ditunggu ya”, katanya. Habis itu gw ditelepon lagi, katanya ada item yang ngga ada. Gw bilang, ok kalau tidak ada, ga usah beli gpp.

Eeh malah di-cancel order gw! Tiba tiba gw kaget nama driver di layar app gw berubah lagi. Driver barunya sms gw, katanya lokasi dia kejauhan. Gw bingung dong ya, ‘kan tadi gw tidak ada ngomong cancel. Koq tiba tiba drivernya berubah? Gw sms dan telepon driver sebelumnya (yang udah deal ama gw), ga dibalas/diangkat sama dia. Terpaksa gw cancel order itu.

Gw sakit hati banget hari ini. Itu driver kenapa sih, ngga tanya dulu, mau diterusin belanjanya atau tidak. Lagipula, dari pihak gw sama sekali ngga ada ngomong cancel. Gw cuma bilang kalo SATU ITEM itu ngga ada ya ngga usah dibeli. Nah sekarang kalau gw mau order ulang, ‘kan gw harus input lagi satu persatu dari awal. Kecewa kuadrat deh gw.

Moral of the story: ngga akan lagi gw belanja groceries lewat Go-Mart. Drivers nya kurang cakap dalam hal belanja (mungkin karena most of them are men, dan biasa di rumahnya yang belanja kebutuhan rumah tangga itu ibu ibu). Kalo gw bandingin dengan Happy Fresh, masih mendingan Happy Fresh, shoppers nya lebih pandai untuk hal milih milih barang. Walaupun sekarang untuk dapat shopping bag harus belanja 600 ribu dulu, huh.

 

TSS.

Advertisements
Standard
Uncategorized

I Feel Betrayed.

How does it feel, when you start your morning, and know that you have been set up for something? Something that of course, you didn’t know before. You think everything is going to be okay and you just do what you do. But then something came up and nobody has ever told you before about it. Nobody has ever discussed before. Just one simple “yeah, it’s not so important, we’ll tell her later”, or “she’s going to have to agree”. And how does it feel when you know that the decision is almost impossible not to be followed. Even more, it has been made just so some faces and reputation can be saved. Talk about saving something by sacrificing others’. Even worse, deep inside, they know the ‘plan’ is not going to be a hundred percent successful.

Talk about bad decision.

Knowing that you’re still an outsider.

Knowing that there’s still somebody out there, who would rather be a kind of backstabber, than have a gut to tell a thing right in front of your face.

Knowing that, in the end, you’re powerless.

How does it feel.

How should I feel?

Standard
Uncategorized

Batavia, Oh…Batavia…

Pailit, Batavia Air Stop Operasi Mulai Pk. 00.00
http://id.berita.yahoo.com/pailit-batavia-air-stop-operasi-mulai-pk-00-153743620–finance.html

Ini berita udah lama, tapi barusan aja gw keingat pengalaman waktu naik Batavia rute Denpasar – Jakarta. Jadi ceritanya itu sekantor mau balik setelah gathering. Di dalam pesawat, gw udah persiapan pasang headset, pasang eyecover (karena gw ga punya sunglasses euy! That stuff sucks too, one of the most sucked things ever made) supaya gw bisa tidur dengan tenang selama perjalanan. Entah kenapa, gw lupa negakin sandaran kursi. Padahal sebelum2nya gw ingat. Eh udah gitu, temen samping gw manggil, ternyata ada pramugara mau ngomong ke gw tapi gw ga denger karena udah masang headset. Gw buka headset kanan gw, ealah tahu gak dia bilang apa? “Headsetnya bisa satu aja ngga? Tegakin kursi.” Dengan tampang yang digalak-galakin.

 

Sekarang, begitu baca berita Batavia Air pailit, gw cuma berharap pramugara itu bisa dapet kerjaan di tempat lain.

TSS.

 

Drop it like it's hot, B!

Drop it like it’s hot, B!

Standard
Uncategorized

Bully.

Gw sedang membaca baca timeline twitter. Dan ketemulah satu tweet seperti ini:

a sample of bully-sounded tweet

a sample of bully-sounded tweet

Normally, I don’t really care what other people tweets, but this one is an exception. Buktinya gw langsung bereaksi, dengan meng-capture timeline-nya dan membalas dengan hashtag BULLY. Karena menurut gw ini seperti ‘ajakan’ kepada anak muda (anak gadis, utamanya) untuk bertindak iseng. Nah coba kalo ada yang ngikutin tweet ini, dan mem-post foto teman sebangkunya lagi ‘bengong’? Apa tujuannya coba? Untuk dinikmati dan ditertawakan? Kalau ada foto yang (amit2) menggambarkan ‘kebengongan’ itu dengan sangat parah, apakah kemungkinan akan di-retweet dan ditertawakan oleh lebih banyak orang?

Sebeginikah ‘kewajiban’ bagi sebuah brand kecantikan remaja untuk tetap meng-update timeline-nya, sehingga tidak bisa memikirkan hal yang lebih baik, lebih positif, ketimbang sekedar cuap2 ngajakin followernya twitpic tampang orang laen lagi bengong? Lah mungkin saja orang itu sedang tidak bengong, tapi lagi mikirin hal lain, mana tahu dia bahkan lagi punya masalah? Apakah kita pernah mikir sampe kesitu saat sedang sembarangan nge-snap muka orang? Gw rasa tidak. Dan apalagi remaja2 labil yang umurnya di bawah 20, tapi sudah bebas menggunakan smartphone, begitu ngebaca tweet seperti ini yang bernada persuasif, mungkin tanpa pikir panjang langsung balik kiri balik kanan mencari ‘mangsa/korban bengong’.

Gila. Satu kata yang menggambarkan semuanya. Post yang tidak bertanggung jawab. Bully. Yang lebih lucu, tweet sebelumnya adalah salam dan ucapan yang baik, tapi tidak diteruskan dengan hal yang sama. Memang namanya social media, orang bebas bersuara. Tetapi gw tidak habis pikir, bahkan gw mikir keras apa hubungannya produk Belia dengan nge-twitpic tampang orang laen lagi bengong. Apa hubungannya kehidupan dan euphoria ‘remaja yang aktif, dinamis, dan modern’ dengan tindakan iseng yang mungkin suatu hari bakal merugikan pihak lain. Bikin malu. Adminnya siapa sih, dalem hati. Mungkin gw lebay kali ya, “begini doank dibesar2in.” Oh, no. Ini namanya menimbulkan ‘digital drama’. Dari hal kecil beginilah yang bikin para remaja/anak di bawah umur lebih cepat galau, akhirnya bunuh diri. Google noh kalo masih tidak tahu.

Sekali lagi, social media, orang bebas bersuara. Tapi mikir dulu keq kalo nulis sesuatu. Apalagi kalau account-nya mewakili sebuah merek yang dikenal banyak orang (remaja, once again!!!) dan tentu tidak mau reputasinya terganggu hanya karena satu ajakan iseng. Goblok.

 

==============================================================

Update:
Reply dari account twitter Martha_Tilaar, parent company the so-called teenage beauty brand:

The reply

The reply

And this morning I checked, ‘the tweet’ was still there. Well, that’s NOT OK!

TSS.

Standard
Uncategorized

“I’m So Proud of You.”

Brandon Teena (born Teena Renae Brandon) was an American trans man, a female to male transgender person, who was raped and murdered in Humboldt, Nebraska. 

In 1999, Teena became the subject of a biopic entitled Boys Don’t Cry, starring Hilary Swank as Teena, which gave Swank an Academy Award for Best Actress.
JoAnn Brandon (Teena’s mother) publicly objected to the media referring to her child as “he” and “Brandon”. Following Hilary Swank’s Oscar acceptance speech, JoAnn Brandon took offense at Swank for thanking “Brandon Teena” – the name Teena Brandon adopted – and for referring to her as a man. “That set me off,” said JoAnn Brandon. “She should not stand up there and thank my child. I get tired of people taking credit for what they don’t know.

source: Wikipedia
Wacth Hilary Swank’s Oscar acceptance speech on Youtube

==========================================================

This might be a little off the story above and not too similar, but has the same point. I really hate people who carelessly used the words “I’m so proud of you”. Whatever happens, mostly when someone achieves something, it is them who stand up and address the message. It is like, other people want to claim the victory for what we have achieved, as if it is them who have made it. Think about it. “I’m proud of you” ? For what? A thing I’ve achieved? Triumph over the dark period of my life? People don’t know what I have been through. And if they do so, they still wanna take credit for it, and claim the glory. And with that, added a sympathetic-like sound. Which, far deep in their hearts, there goes “You wouldn’t be without me, or my help.” What the hell.

I will more accept if they used the words “I’m happy for you”. I think everyone can see the difference. It is the most sincere, honest, truthful expression anyone can use, and without taking the honor over from someone. It’s just that, not every time, every person who claim that they are proud of me is really know what is going on. And the thoughtfulness sound doesn’t help. It doesn’t FIT the situation. No one should use words that they don’t really understand.

Please don’t take the wrong way, I love Hilary Swank, but I have to be on JoAnn’s side this time.

Well, it’s just me. Just my thought. TSS.

Standard