Goodbye, Tokopedia.

Satu lagi app yang jadi korban uninstall di hp gw, plus gw berjanji tidak akan browsing website-nya lagi dari komputer gw. Behold, “pasar / mal online terbesar di Indonesia”, Tokopedia!


Well, gw ga akan bertindak begini, kalau saja accusation dari pihak sananya gak kebangetan. Begini ceritanya…


Kemarin, gw beli pulsa di sana. Kebetulan ada promo cashback pakai kode. Transaksinya lancar, mulai dari pembelian hingga pembayaran, dan pulsa pun berhasil masuk ke nomor gw.
Di detik yang sama, ada e-mail aneh masuk ke inbox gw. Daripada susah susah gw ketik disini, here is a screenshot for your convenient reading:


“Lebih dari satu akun” ? Um… seingat gw sih, gw yang paling tahu ada berapa akun yang gw pakai buat platform bernuansa ijo ini, dan sejak dulu hingga sekarang memang cuma ada SATU AKUN! Kenafa oh kenafa tiba tiba ada email otomatis (yep, I am very confident that it was an auto-reply mail) yang bilang gw melanggar + punya lebih dari satu akun + a cocky warning ya?

And then, you know what happened next. Being an emotional person that I am, pertama gw naik darah dulu, terus gw balas deh email tersebut. Inti balasannya adalah, gw minta penjelasan mengapa gw dituduh mempunyai lebih dari satu akun. Gw sertakan juga screenshot transaksi pulsa gw yang mana gw cuma bertransaksi satu kali. Dan tentu saja, balasan email gw berupa hurup kapital seluruhnya, huahaha…

Sambil menunggu balasan kembali, gw mencoba mengira-ngira penyebab tuduhan tersebut.

  1. Apa karena gw bayar pulsa itu sebagian pakai Tokocash. Tapi, bukan berarti gw melakukan pelanggaran lebih dari satu akun untuk mendapatkan keuntungan promo, dong?
  2. Apa karena gw bayar sebagian pakai Tokocash + pakai kode promo untuk cashback, jadi dianggap double advantage? Hmm.. kayaknya sih ngga ya, ‘kan Tokocash itu duit gw juga dalam bentuk virtual? Dan, bukan berarti gw melakukan pelanggaran lebih dari satu akun untuk mendapatkan keuntungan promo, dong?

Jadi, kenapa nih? Kenapa si logo ijo dengan teganya bilang gw melanggar dan punya banyak akun? Lalu gw diberikan peringatan dalam hal apa dong ya?

Nah, hari ini muncul deh balasannya.


Umm… hello? Seingat gw, email gw sebelumnya bukan komplain mengenai cashback yang (tidak pasti) gw dapatkan, tapi minta penjelasan mengenai tuduhan sepihak dari mereka. Dan dalam balasan email hari ini, dengan arogannya mereka bilang transaksi gw sudah direvisi dan cashback sudah dikasih. Gw jelas jelas mengatakan di email, kalau memang gw tidak berhak dapat cashback, tidak apa apa, tapi jangan tuduh gw “melanggar dengan berpartisipasi menggunakan lebih dari satu akun untuk mendapatkan keuntungan promo”.
It’s like, lu nuduh gw bikin KTP ganda dengan identitas berbeda supaya gw bisa ngawinin banyak laki kaya (well, not a very proper analogy here but, you get what I mean).
Dan jelas pula email balasan terakhir dari mereka tidak menjelaskan KESALAHAN yang mereka buat sendiri, apalagi meminta maaf, instead mereka “membujuk” gw dengan bilang “ya udah, lu cerein deh salah satu laki lu (yang mana ga pernah gw kawinin karena KTP gw cuma 1), nih gw kasih harta gono-gini yang kemarin gw janjiin”. What a spineless cocky move. I don’t even know how they walk!

The solution was settled (they assumed). Dan dari pihak gw juga melakukan apa yang menurut gw langkah terbaik: hapus semua wishlist, uninstall app dari hp, hapus bookmark dari browser, dan berjanji tidak akan browsing atau belanja lagi dari platform tersebut. God of stop-shopping, give me strength!




Possibly One of the Best Make-up Pouches and What I Carry In It

I love pouches and mini bags. In the past I owned plenty of them, some stood the test of time (and my changing taste), but I’m still in the quest of finding a perfect one. Tujuan hidup yang nggak penting banget, yah. 🙂

While browsing through Shopee app last week, I found one that was really my type. A small, square-shaped see-through make up pouch. Looked like jelly! It comes in 3 sizes, 5 colors of each, and the small blue one really spoke to me, but I hated the price. Curiously, I searched the pouch image through Google, and found the original seller at Tokopedia. Turned out it was only IDR 20,000!

Transaction was smooth and my order was delivered on-time. The real product is quite impressive. Good quality material, well sewn, no-nonsense decoration and plain square shape. Even no brand tag was attached to it. I would probably be more euphoric if it comes in a real clear/transparent or black color, but blue is indeed included in my boring life palette (sing with me: “black-white-greens-blues… tell me what makes you confuse…”). The zipper is a little bit hard to work with, but I’m okay with it, just takes a very little bit of effort to open. 🙂

I thought it’s just necessary to share what I put shoved in this poor little cute jelly thing.


Sonia Kashuk Hidden Agenda concealer palette in 07 Light. It contains 3 cream products and 1 setting powder. All components inside it are useful. I should mention the setting powder performs beautifully to set under eye concealer.

Bourjois Healthy Balance compact powder in 53 Light Beige. Although this is one of my favorite face powders, I won’t repurchase again because I’m switching to cruelty-free brands. A bit sad, because this one is great but hey, a commitment is a commitment to be done.

Essence lip liner in Wish Me A Rose. This one I like! It’s so good that I can wear it alone without layering a lipstick on. Great everyday pink color. Not to mention it’s affordable. Don’t expect it to be long-lasting though, and I’m never too fond of very long-lasting lip products because sometimes they can appear too dead matte on.

Too Faced La Creme lipstick in Spice Spice Baby. The brand was sold to Estee Lauder in 2016. I just realized that I own one lipstick and has vowed to finish it, effective immediately. #lol

Chanel compact Mirror Duo. Pretty self-explanatory. Sometimes I need to zoom-view what’s left in between my teeth.

Minyak Kayu Putih Cap Lang. A very nice sick day remedy. Love the eucalyptus smell and warmth it gives. I’ve tried other brands, but this one stuck. Hey, proud Indonesian here. 😉

A generic mini spoolie. Sometimes I want to brush my eyebrows.

Japonesque Fluff Concealer brush. This is the only brush from the brand that I kept when doing major make-up and brush declutter months ago. I never thought I could let go of the rest of my Japonesque and other animal-hair cosmetic brushes, because all of them performed so greatly and each held their own memory in my heart but, oh well. Again, commitment.
But this particular brush works well to apply under eye powder. I use it with the Sonia Kashuk palette. Ever so good that I own 2 of them (well, satu lagi sebenarnya buat dijual, sih).

Ecotools Powder/Blush brush from the Five Piece Travel Collection. I like Ecotools’ brush sets and it’s an eco-friendly beauty company.

Ralph by Ralph Lauren rollerball perfume. Again, plan to finish this as soon as possible.

Crown Brush SS021 Deluxe Blending Fluff to buff concealer everywhere. I love Crown’s Syntho series! They’re affordable, nicely built and I’ve never experienced any shedding.

Korres Lip Butter in Pomegranate. The best tinted lip balm, ever!

Hygienex toilet cover paper that I rarely use, Ovale Face Paper (oil blotting sheets from a local brand), and Polycrol, just in case.


Sorry for the bad lighting, btw. And yes, the pouch is jam-packed. It’s good though, to prevent myself from shoving more stuffs in it. I’m trying to travel lightly. That’s why my current work bag is tiny (compared to what I used to use before), and only this pouch fits inside.

Pouch information
Seller: La Poche

Variant: Small

Dimension: 14 x 9 x 4 cm


Note to self: “I come in peace.”

Well that sounds like an alien invasion.

But yeah, it feels like it, been alienated all along.


This month marks my 6th month since my first decision of becoming vegan. And through this journey so far, one thing that I most learn is that, there are always at least one person that will be so actively defensive, than supportive, in the first place, when hearing someone they know has switched sides. Maybe there is one in every family. In fact, that happened within mine. The phrases and sentences such as “What are you, a Hindu?”, “You’re a dog.”, “…according to the Bible!”, etc. made it even hurtful especially when told with such a insulting tone. Well first of all, if you don’t realize, you are insulting a religion, my friend.

I’m just confused and can’t bring myself to believe that there are some people, who are so afraid, that the truth would harm them, so they defend so hardly, before the opposite pushes them a little further. That’s what I learned. People are so afraid, but they defend nothingness. It is a fascinating contrast and somewhat cringe-worthy.


The only thing I regret from that moment though, that I went emotionally, and could not bring myself to give more peaceful and reasonable arguments. I was a sad vegan firstly because of what humans have done to animals, but also because I couldn’t act as a reasonable one in front of non-vegans. Probably because of the anger towards their defensive reactions, and that I should learn how to deal with them more effectively. Oh, how I miss my peaceful days.

SUPERBAD: Pengalaman Belanja di

Sayang, kan, kalau emosi tidak disalurkan dan kebenaran tidak diungkapkan? 😀 So, here it goes:

  1. Hari Minggu kemarin gw pesen hp di blibli. Jelas jelas estimasi pengiriman di halaman akun gw itu tanggal 8-12 Agustus. Gw tanya CS-nya, bisa ngga diusahakan sampai di gw maksimal tanggal 10, karena itu hp pesenan emak gw dan mau gw bawa pulang ke kampung (yes, kampung. Gw ini orang kampung yang sekedar mau beliin emaknya hp). Kata CS-nya, estimasi 8-12 (again! Kayak gw ga bisa baca aja).
  2. Besoknya gw ngomong sama CS bernama A karena status order gw belum berubah. Kembali gw bilang bisa ngga gw terima tanggal 10. Nah si A ini ngotot juga estimasinya 8-12. Karena katanya ngecek di gudang dulu (lah, berarti barang ga ready donk?), gudangnya di Cawang sedangkan kantornya di Tubun (emang gw pikirin? Masih sama sama Jakarta, kan?), perlu proses persiapan barang 2 hari kerja, dan segala alasan lainnya. Gw sempat tanya, karena di bagian lain estimasi pengirimannya ditulis 8 – 18 Agustus, itu maksudnya apa, tapi si A cuma bilang itu estimasi. Intinya dia tetap berpegang pada estimasi pengiriman 8-12 Agustus. Tapi karena gw ngotot juga, akhirnya gw dibikinin ID Pelaporan untuk request percepatan pengiriman.
  3. Besoknya gw email lagi ID itu karena status order gw belum berubah. Dibalas sama CS nya:
    Oh, jadi bergantung ama merchant lain juga ya ternyata. Gw ketipu dong, kirain stocknya ready di gudang Blibli. Jadi penasaran gudangnya segede apa. Disini statementnya masih sama, 2 hari kerja.
  4. Siang hari gw iseng ngecek lagi, masih pakai email, dan tahu ga jawabannya apa?
    Gw langsung meradang. Koq gw ngga tahu ada kebijakan ini? Kenapa ngga dari kemarin bilangnya ini promo dan baru bisa dikirim tanggal 18? Kenapa kemarin ngototnya maksimal sampai tanggal 12? Gw balas email itu dengan font gede dan kata2 wajar untuk orang yang merasa dikerjain.
  5. Masih dalam hari yang sama, gw telepon lagi CS nya. Dan sekarang CS nya BARU NGOTOT kalo itu produk promo dan preorder. Preorder? For f**k’s sake, gw ga pernah tahu dan ngga pernah ada tulisan itu dibagian manapun baik di website maupun di email konfirmasi order gw. Kenapa kemarin ngototnya maksimal sampai tanggal 12? Dan baru setengah jalan berdebat, tiba tiba teleponnya putus.
    Gw telepon lagi CS nya. Gw minta batalin pesanan dan refund dalam bentuk uang, bukan voucher (regulasi di Blibli, kalau pembatalan masih dalam jangka waktu estimasi pengiriman, pengembalian dana dalam bentuk voucher. Ini kata CS nya lho, gw sendiri tidak melihat aturan ini di websitenya).
  6. Kenapa gw tidak mau pengembalian dalam bentuk voucher? Pertama, gw tidak peduli ini promo clearance, preorder atau apapun. Gw masuk ke website, gw langsung search LG Fino dan gw sort berdasarkan harga terendah. Begitu dapat, ya langsung gw beli dong? Peduli setan dengan preorder? Kalau memang benar preorder, ya langsung sekalian tulis di page yang sama dong? Kenapa Terms & Conditions nya harus ditulis di halaman berbeda, dan kenapa CS awalnya ngotot bisa dikirim maksimal tanggal 12? Lu disini pakai kalimat “Disediakan dan dikirimkan oleh” untuk menyalahgunakan kepercayaan gw dong, padahal barang masih lu pesen ke merchant?
  7. Kedua, kalau memang ini preorder, berarti barangnya belum tiba di gudang Blibli, berarti uang gw masih “utuh” kan? Masih bisa dibalikin dong? Jangan jangan si Blibli nya juga belum order barang itu ke merchant? Jangan bilang proses order dan pengiriman antara Blibli dan merchant bisa sampai 2 minggu. Tapi kalo memang prakteknya kayak gitu, yah gw maklum saja lah.
  8. Ketiga, menurut websitenya pengembalian dalam bentuk uang baru bisa kalau sudah lewat estimasi pengiriman. Nah, ini kan sudah jelas dibilang bahwa barang baru bisa dikirim tanggal 18, sementara di statement awal, dibilang barang bisa dikirim estimasi tanggal 8-12. Berarti boleh dong, gw minta balikin duit, kan udah pasti juga barang itu bakal gw terima tanggal 12?
  9. Hari ini gw ditelepon Blibli lagi, katanya akan diproses pembatalan dan pengembalian dana dalam bentuk voucher. Gw bilang, ngga usah dilanjutin pembicaraannya. Tutup telepon, diskusi ama board directors lu, dan abis itu baru telepon gw lagi. Gw udah bilang dari kemarin2 gw ngga mau terima voucher. Itu sama aja lepas dari mulut harimau, masuk mulut buaya. Ngapain gw belanja lagi disitu kalau pengirimannya semua lama? Lagipula gw udah ngga mau ada urusan apa apa dengan e-commerce ngga jelas ini.
  10. Telepon ke dua, katanya sih duit gw akan ditransfer balik. Gw juga sudah email nomor rekening. Statement ini satu satunya yang bikin gw sedikit tenang karena tahu dana gw akan kembali dalam bentuk yang sama. Sampai di sini gw udah capek, dan gw berikrar tidak akan pernah berurusan lagi dengan Blibli.

Moral of the story: satu aja, JANGAN BERTRANSAKSI DI BLIBLI.COM. Gw ga ngerti lagi deh jelasinnya gimana. Kalau ada merchant yang jualan lepas di situ (artinya barang dikirim oleh merchant, bukan dikirim ke Blibli lalu diteruskan ke customer), mending cabut kerjasamanya. Nama Blibli udah jelek. Menurut gw masih banyak e-commerce lain yang lebih baik. Yay!



Post Pertama di 2016: Bingung Judulnya Apa.

Temanya masih gak jauh jauh dari kekesalan karena (merasa) tertipu. 

Jadi ceritanya gw sekarang ngekos dengan sistem meteran listrik per kamar (pake token prabayar, keren ye). Waktu awal masuk, gw rada awam soal token ini. Lalu ditawarin sama penjaga kos untuk dibantuin isi token. Gw pernah denger sih, kalo isi goban aja udah cukup buat sebulan, pemakaian standar. Jadi yaudah gw kasih goban ke bapak itu.

Baru hari ini gw tahu kalo histori pengisian token bisa dilihat di Iseng iseng gw masukin nomor meter gw. Lah, koq pas tanggal gw masuk, isiannya cuma noban? Masa sistem PLN salah record sih. Dengan demikian gw berkesimpulan bahwa duit goban gw kemarin ga semuanya dibeliin pulsa listrik ama si bapak, tapi cuma noban doank. Sialan, pantesan gw berasa KwH koq cepet abis padahal belum sebulan. 
Trus tadi di toilet gw sambil mikir, apa gw minta balikin lagi yang 30rb yah. Tapi gw pikir lagi, ngapain. Yang udah gw buang buat apa balik ke gw lagi. Mungkin gara gara mikirnya di toilet sih ya, jadi keputusannya kayak gitu, hehehe… Yang pasti sekali aja gw minta tolong orang. Previously I didn’t know filling in electricity token was that easy. Kebodohan bisa merugikan, emang.
Btw, this is the blush I used today. The super old Bourjois Little Round Pot in Rose D’or, plus Precision Beauty angled blush brush.


Save Yourself Some Hassle by Organizing Your Contacts & Speaking Professional English | Hidup Lebih Nyaman dengan Mengatur Kontak & Berbicara Bahasa Inggris

Ah, judulnya bi-lingual (biar keren aja), tapi isinya lebih nyaman diketik pakai bahasa Indonesia, ga apa apa ya. Toh ini memang ditujukan untuk warga negara Indonesia koq, hehehe…

Jadi gini. Gw ini kesel banget dengan telepon dari nomor asing yang suka masuk ke handphone gw, begitu didengerin lebih dari 5 detik taunya telemarketing nawarin kartu kredit/asuransi/dan lain lain semirip itu. Terkadang makhluk (baca: orang) yang berbicara di ujung sana sangat annoying dan terlalu menggebu dalam menawarkan produknya, maka dari itu gw penasaran bagaimana caranya menghindari tawaran tawaran lewat telepon seperti ini.

Udah gitu banyak telepon aneh entah dari siapa, yang kalau diangkat ngga ada suaranya (hantu lagi ngetest jaringan dalam kubur, mungkin).

Dalam 2-3 bulan terakhir ini, gw rasa gw sudah hampir menemukan solusi yang cukup mumpuni, setidaknya untuk kenyamanan kehidupan gw sendiri, untuk menghindari pihak pihak tidak dikenal yang kadang suka menclok di dering handphone gw. Berikut:

  1. Pisahkan nomor telepon/handphone untuk inner circle (keluarga, teman dekat) dan outer circle (kerjaan, kolega, teman tidak terlalu dekat, musuh, perbankan, dll :D). Kalau hanya punya handphone 1, baca kembali daftar contacts yang ada di handphone anda sekarang, dan saring serta hapus nomor nomor yang sekiranya tidak pernah menghubungi/dihubungi oleh anda dalam 1 tahun terakhir. Kejam yak, tapi percaya deh, ngapain juga nyimpen nomor orang yang tidak pernah kita kontak? 😀
  2. Apabila kontak anda memiliki 2 atau lebih nomor, jadikan 1 nomor sebagai primary dan hubungi mereka selalu lewat nomor utama ini. Untuk nomor telepon kantor, instansi atau bank, lakukan juga seperti itu, hanya simpan nomor utama dan nomor Customer Service-nya saja (untuk bank atau rumah sakit). Sebaliknya, sampaikan juga ke keluarga/teman/kolega anda, “eh kalau menghubungi gw, ke nomor gw xxx ya, ini nomor primary gw, simpan yang ini aja.”
  3. Sudah selesai memisahkan dan menyaring daftar kontak anda? Sekarang saatnya beraksi apabila ada nomor selain dari daftar kontak tersebut, muncul di layar handphone anda. Gw bikin format untuk diri gw sendiri seperti ini, saat gw angkat telepon dari nomor tak dikenal (level suara sopan – bukan sopran):“Good morning (atau afternoon, atau evening, tergantung jam pada hari itu), this is [nama gw], to whom am I speaking?”
    Kalimat di atas dan nadanya bisa dimodifikasi sesuai selera, misalnya ga mau terdengar profesional, tinggal ganti berlogat ghetto atau country, gitu. Kedengerannya konyol ya, kayaknya gw usaha banget buat terdengar profesional. Tapi (lagi lagi) percaya deh, kalau memang orang di ujung sana butuh bicara dengan anda, pasti mereka teruskan panggilan teleponnya, paling abis itu cuma heran aja, eh buset lu ngapain sok sok inggris segala, paling gitu. Gw udah 2 kali pakai trik ini ketika mengangkat telepon dari nomor landline yang angkanya cantik (disinyalir sebagai nomor perusahaan perbankan/afiliasi perbankan yang hobi nawarin macem macem), eh, langsung ditutup lho teleponnya, huahaha… Padahal gw kira kalau gw berlagak seperti orang asing, para telemarketing itu bakal lebih antusias karena dikira gw tabungannya banyak, hihihi… ini koq malah parno. Dan sejak gw pakai trik itu, telepon aneh aneh berkurang jauh.
    Beda dengan ketika orang kantor yang telepon, mereka ngga tutup telepon tapi ngomong, “Bu, ini dari xxx kantor xxx… minta tolong dibenerin programnya…” (eike berprofesi sebagai system support, cyin)
    Trust me, trik ini akan terus berlaku dan ampuh, selama sales kartu kredit/asuransi/dll belum fasih berbahasa asing… Eh tapi pastikan diri kita sendiri juga sudah cukup fasih dalam berkomunikasi bahasa Inggris profesional yah 🙂 Trus gimana kalau penelepon di ujung sana tetap ngotot? Ya tanyain aja, dari mana/ini siapa (tetep sok Inggris ya). Kalau emang nawarin kartu kredit mah, tolak saja, tetap dengan Inggris pro, hahaha…

Psst… gw cerita dikit pengalaman atasan gw. Jadi kan atasan gw sekarang ga-lak banget ya, begitu juga kalau terima telepon dari telesales perbankan. Nolaknya gini, “Pak/Bu, saya ngga tertarik. Jangan hubungi saya lagi, terima kasih!” Hehehe…menurut gw itu ngga membuat telesales menyerah, bulan depan pasti ditelepon lagi lah… ;D

Dan hal ini juga untuk melatih para telesales di berbagai bidang untuk cakap dalam berbahasa asing lho, minimal Inggris. Bukannya sombong dan merendahkan pekerjaan telesales ya, tapi dengan kondisi sekarang, negara kita sangat terbuka dengan WNA or expats, masa kita ngga mau belajar sih? 🙂 Setelah dipikir pikir, pelajaran bahasa Inggris dari SD sampai tamat sekolah itu ternyata manfaatnya luar biasa. Dan gw, sebagai pribadi yang memang tidak suka terlalu banyak bicara, kalau dapat telepon dari telemarketing, maunya langsung tolak aja gausah pakai dengerin dulu. Soalnya kalau didengerin, bisa setengah jam, kuping jadi panas, kerjaan ngga kelar.

Eh iya, satu lagi, trik ini juga cukup ampuh digunakan untuk telepon yang mengarah ke penipuan, kebanyakan itu yang pas kita angkat, orang di ujung sana ngomong “Lagi dimana? Masa lupa?” Mati gak lu kalau yang kayak gitu langsung disambut pake Inggris. Mo coba coba nipu apa lagi. Biasanya peneleponnya abis itu diam, ya udah tinggal kita matiin aja teleponnya.

Semoga langkah langkah di atas cukup membantu anda semua untuk mendapatkan hidup yang lebih nyaman. Hidup anda ngga bakal berubah drastis sih, apalagi kalau anda banyak hutang atau korup 😀 It’s all about letting someone in or out of your life.

Tokopedia Experience: Penjual Memanfaatkan Celah untuk Mengulur Waktu Pengiriman Barang.

New post. Still a complaint-type one.

Langsung aja. Soalnya udah ditahan tahan keselnya dari 2 minggu lalu. Pihak pihak yang terlibat adalah gw dan si penjual bangsat (selanjutnya gw sebut ‘PB’). Kronologi:

1. Tanggal 12 Februari gw pesen barang lewat

2. Tanggal 13 Februari gw bayar via transfer ke rekening Tokopedia (selanjutnya gw singkat TP) dan konfirmasi pembayaran.

3. Tanggal 15 Februari PB konfirmasi balik bahwa pesenan gw lagi diproses.

4. Tanggal 17 Februari muncul notif info nomor resinya. (gila ya, dua hari kemudian baru dikirim pesenan gw. Tapi saat itu gw masih toleransi, yah siapa tahu PB kebanjiran dan pakaiannya tidak ada yang kering sehingga dia tidak bisa jalan keluar rumah untuk ke JNE untuk ngirim pesenan gw)
Gw lacak nomor resi itu di web JNE tidak ketemu (“Airway bill not found”, katanya). Gw pikir memang proses di JNE nya yang belum input resi itu ke dalam sistem.

5. Tanggal 18 Februari status lacaknya juga masih belum ketemu. Gw kirim PM ke PB. Gw bilang tolong cek apakah salah ketik. PB cuma menjawab “mohon tunggu y, trims”. Gw pikir yang dimaksud “mohon tunggu” adalah PB mau cek resinya salah ketik atau mau cek status kirimannya ke JNE, ternyata maksudnya adalah… tidak jelas memang.

6. Tanggal 21 Februari status resi gw masih juga tidak ditemukan di web JNE. Perlu diketahui barang itu papa gw yang minta beliin, beliau tinggal di luar daerah, bisa dibayangkan was was nya menunggu kiriman sampai. Gw PM kembali ke PB minta untuk kertas resinya difoto aja karena gw mau cek sendiri ke JNE.

7. Sampai tanggal 23 Februari, PM gw tidak dibalas. Dari sini gw sudah mulai merasa PB mengulur ulur waktu. Tidak mungkin dia tidak pegang resi aslinya, kan? Tapi kemudian akhirnya PB balas, dengan jawaban yang sangat enteng dan santai, “maaf resi mengalami kendala, biar saya coba hubungi pihak jne, mohon tunggu”. Kenapa ngga dari kemarin, nyet?

8. Masih di hari yang sama, gw kembali balas untuk minta foto resi. Gw sudah ngga percaya dengan manusia PB ini.

9. Tanggal 24 Februari PB baru balas lagi “maaf bila ad kendala. saya sudah kirim ulang. mohon tunggu.” Kemudian PB balas lagi dengan nomor resi berbeda, dan status order di halaman TP pribadi gw berubah menjadi “Perubahan nomor resi pengiriman”. Gw sama sekali tidak mau menganggap resi baru ini adalah akhir dari segalanya, maka gw tetap minta foto resi tersebut. Dibalas oleh PB, “maaf resi sedang dalam penitipan di jne, bisa cek di”. Gw bukan orang bodoh, sejak resi pertama juga sudah bisa dilacak langsung dari TP, kenapa baru sekarang dia seakan meyakinkan dan mengarahkan gw untuk cek ke web JNE? Pembenaran bahwa resi pertama yang dia kasih palsu?

10. Sampai hari ini tidak ada respon mengenai foto resi baik ke PM TP ataupun email pribadi gw.

TP biasa akan otomatis membatalkan order kalau tidak ada proses dari penjual dalam 3 hari. Dari kronologi di atas bisa dilihat: dari tanggal 12 ke 15 berarti PB mengulur waktu semaksimal mungkin (2 hari) untuk dia proses order gw.

Dari tanggal 15 ke 17 PB ulur waktu lagi 2 hari untuk infoin nomor resi atas orderan gw (yang ga jelas statusnya sampe sekarang, apakah itu resi asli yang tidak terkirim atau PB berangan angan memiliki agen JNE tetapi tidak kesampaian hingga dia malah ngarang nomor resi sendiri).

Dari tanggal 21 ke 23 PB ulur waktu lagi 2 hari entah untuk apa. Baru pada tanggal 23 itu dia kirim resi baru.


1. Si bangsat ini sengaja mengulur waktu sampai batas maksimal proses order di TP supaya ordernya tidak ter-cancel otomatis.

2. Resi pertama adalah palsu, dan sejak awal memang barang gw tidak pernah dikirim. Tidak pernah ada pengiriman tanggal 17 Februari, dan tidak pernah ada kendala resi. Terbukti foto resi pertama yang gw minta tidak pernah bisa dipenuhi oleh PB.

3. TP punya celah yang fatal karena bisa dimanfaatkan oleh penjual untuk mengulur waktu pengiriman. Ini bisa jadi kesempatan bagi penjual yang tidak memiliki barang ready stock, yang barangnya harus dijemput dulu entah dari mana yang membutuhkan waktu hampir sama atau sama dengan waktu maksimal proses order yang diberikan TP sebelum order ter-cancel otomatis.

4. Yang paling rugi adalah pembeli karena mereka sudah rela transfer duit buru buru dengan harapan order segera diproses dan barang segera dikirim.

5. Penjual di TP untung karena order mereka tetap ada sampai selesai dan mereka dapat rating lumayan untuk tokonya di TP.

6. TP untung karena sudah pegang duit pembeli (ya iyalah, diputerin lagi donk duitnya). Tapi begitu ditanyain pendapat ke customer service, jawabannya cuma “kemungkinan resi salah ketik” atau “coba ditanyakan langsung ke penjual” (I’ve had these answers). Hellooo… kalau solusinya cuman gitu gw ga perlu tanya elu kali…

Hati hati dengan penjual bangsat macam ini. Mereka cuma mikirin keuntungan sendiri, yang penting order tetap finish ga peduli berapa lama nyampenya, rating tetap dapat minimal 3-4 bintang lah, dan toko gw di TP ngga di block. Kejujuran urusan belakangan (gw udah ngga bisa komen tentang pelayanan yah, kalo model kasus toko online begini kurang bisa diukur pelayanannya).

Nama di Tokopedia adalah ALENG88. Silakan kalau mau coba. Mungkin bisa jadi inspirasi juga buat calon calon penjual online yang sistemnya tidak ready stock, harus belanja barang ke pasar dulu. Hah.